APBN Defisit, sudah menjadi rahasia umum barangkali. Saya pribadi
baru menyadarinya sejak tahun 2008 setelah lulus kuliah. Mungkin saking
terlenanya saya oleh “dunia akademis” sehingga tidak sempat memikirkan
hal-hal yang berbau “isu nasional”.
Sempat kaget juga, sampai-sampai mata ini rasanya terbelalak
menyaksikan angka minus tersebut. Ah, tapi saya ga mau mikir yang
berat-berat Yang kalo dijabarkan bakalan sehari semalem baru kelar..
Yang jelas-jelas “terasa” aja deh, kenapa anggaran negara ini bisa
“Besar Pasak Daripada Tiang?”
Secara logika umum, jika defisit ada dua hal yang bisa dilakukan :
Menaikkan Pendapatan dan Menurunkan Pengeluaran. Bisa salah satu atau
dua-duanya. Yang mana yang paling realistis.
Mari kita lihat dari pengeluaran.. Yang katanya paling besar porsinya
setelah anggaran pendidikan (yang dipatok 20 %) adalah subsidi energi
yang mencapai 15 % lebih dari total belanja negara, bahkan di APBN-P
mungkin mendekati 20 %…
Tentang subsidi energi, ini yang baru aja rame banget dibicarakan..
Sangat pelik dan pahit. Indonesia belum mandiri secara energi. Padahal
negara ini terkenal dengan berbagai macam potensi Sumber Daya Alamnya.
Fosil dan Non-Fosil. Tapi kita sudah terbingkai dan kebablasan
ketergantungan pada sumber energi fosil yang dikuasai asing. Akhirnya
terkatung-katung, kebirit-birit nutupi subsidi.
Listrik yang sudah terlanjur mudah didapat jadi salah satu “peminum
subsidi” yang banyak. Tingkat pertumbuhan listrik di masyarakat yang
semakin besar tidak didukung oleh strategi antisipatif yang baik. Banyak
pembangkit masih “minum” BBM, yang harganya semakin selangit. Sedangkan
harga jual listrik ke masyarakat harus murah. Akhirnya subsidi.
Mau pindah ke lain hati, eh, pindah ke lain sumber energi bukan hal
mudah. Pakai gas, harus bangun infrastruktur pipa gas yang tidak dekat.
Pakai batu bara, bangun PLTU-nya bermasalah. PLTU dikuasai kontraktor
C*na yang bilangnya murah tapi akhirnya malah ga terarah. Sering
perbaikan daripada operasi.
Sebenarnya, subsidi energi merupakan hal yang wajar dan harus
dilakukan pemerintah. Lihat UUD 1945 Pasal 33, memang sudah menjadi
kewajiban pemerintah mensejahterakan masyarakat pada level kebutuhan
dasar. Hanya mungkin masalah salah kelola di sana sini yang menyebabkan
“kebablasan subsidi energi”.
Subsidi tetap harus ada, tapi untuk kalangan yang tepat. Bagaimana
membatasi warga2 mampu untuk membeli BBM bersubsidi. Mereka tetap dapat
subsidi tapi dibatasi.
Kembali lagi tentang APBN. Mengapa seolah-olah pemerintah “santai”
dengan defisit APBN? Ini tidak masuk logika akal sehat saya. Kenapa
perencanaan kok defisit. Di tahap perencanaan seharusnya dibuat
bagaimana caranya supaya imbang, bahkan surplus.. Kalo memang
pelaksanaannya defisit ya lain lagi. Ini kok terbalik ya?
Apa ini cerminan bangsa kita? Masalah anggaran defisit “dianggap
santai”, dengan gampangnya nanti jadi berhutang. Apa ini sengaja dibuat
agar negara kita selalu berhutang? Dengan anggaran defisit ini jadi
pembenaran kita untuk terus menambah hutang2 baru ke pihak asing?
Saya kira ini jadi bukti kemalasan kita.
Semarang
04042012
APBN Defisit, Bukti Kemalasan Kita!?
It's Time To Say Goodbye, Dear Oil...
Bismillaahirrahmaanirrahiim...
Meneruskan tulisan saya sebelumnya tentang BBM... Sepertinya masalah energi buat sebagian orang akan selalu menarik untuk dibahas.
Okelah, sekarang (sebagian) orang sudah mulai "siap"dengan kenaikan harga minyak dunia.. Namun apakah kita sudah memikirkan jangka panjangnya, sampai kapan kita mau terus bergantung pada minyak?
Indonesia yang jaman dahulu terkenal sebagai negara penghasil dan pengekspor minyak seharusnya tidak masalah dengan kenaikan harga minyak dunia. Akan tetapi bagaimana sekarang? Apakah status Indonesia masih seperti itu?
Hmm.. mari kita lihat data,
Dari tahun 1989 - 2000, produksi minyak mengalami penurunan rata-rata 17,65 % hingga ke level 1.450.000 barel per hari, sedangkan tingkat konsumsi terus mengalami peningkatan 67,8 % hingga menyentuh angka 1.150.000 barel per hari. Di tahun ini Indonesia mulai "seret" mengekspor minyak, yakni hanya 300.000 barel per hari.
Pada tahun 2003 awal, untuk pertama kalinya Indonesia mengalami "impas" dalam produksi dan konsumsi BBM.. Produksi minyak terus turun hingga angka 1.220.000 barel per hari, di saat yang bersamaan konsumsi minyak dalam negeri naik ke angka yang sama! Inilah TITIK BALIK kondisi PERMINYAKAN negara Indonesia, dari negara pengekspor ke negara pengimpor. Populasi yang terus bertambah dibarengi peningkatan kebutuhan industri dan ekonomi membuat negara ini semakin "haus" akan minyak.
2004 dan setelahnya, nilai kuantitas produksi minyak kita semakin turun saja menuju ke angka 1.000.000 barel per hari di tahun 2006, sedangkan angka konsumsi seakan tidak peduli, terus saja naik hingga mendekati angka 1.300.000 barel per hari. Di akhir grafik ini, yakni pada tahun 2010, kita bisa melihat posisi minyak Indonesia DEFISIT 324.000 barel per hari, dimana defisit itu harus kita tutupi dari impor minyak.
Seharusnya dari tahun 2002 kita sudah mulai waspada, bahkan jauh sebelumnya kita seharusnya sudah bisa memprediksikan bahwa cadangan minyak kita sudah mulai seret.. Sedangkan nilai konsumsi BBM tidak juga diberi "penekanan". Seharusnya di awal tahun 2000 pemerintah yang saat itu baru saja REFORMASI mulai menata kebijakan energi Indonesia di masa yang akan datang.
Setidaknya ada dua hal yang harus dilakukan dalam mewujudkan ketahanan dan kemandirian energi Indonesia :
1. Mengurangi ketergantungan konsumsi BBM di Indonesia di segala sektor (transportasi, pembangkit listrik, dll).
2. Mengeksplorasi dan memanfaatkan sumber energi alternatif BBM seperti Gas, Batu bara, terutama seumber energi terbarukan seperti Matahari, Panas Bumi, Angin, Gelombang Laut, Biomassa, dll.
Dengan segala potensi yang dimiliki oleh Indonesia, seharusnya hal tersebut menjadi sangat mungkin dilakukan. Say Hello to Renewable Energy, Goodbye Oil Energy!!
Bandung
24032012
BBM : Bahan Banyak Mafia...
Bismillaahirrahmaanirrahiim...
Pemerintah dalam waktu dekat ini berencana menaikkan harga BBM (Bahan Bakar Minyak). Mungkin kita sudah tahu bersama, harga minyak dunia yang semakin tinggi dan konsumsi BBM kita (Indonesia) yang melebihi produksi dalam negeri menyebabkan Indonesia masih harus mengimpor minyak.
Data dari CIA Worldfact mengungkapkan total konsumsi minyak Indonesia 1,292 juta barel per hari, sedangkan produksinya 1,031 juta barel per hari. Sehingga Indonesia mengalami defisit minyak sekitar 271 ribu barel per hari. Itu kalau produksinya maksimal, kalau sumur minyak dalam negeri sedang seret, ya lebih banyak lagi butuh impornya.
Akan tetapi justru ketidak-adilan harga terjadi saat proses impor BBM ini. Pertamina bertanggung jawab mengimpor
BBM lewat anak perusahaannya yang disebut Petral (PT Pertamina Energy
Trading Ltd).
Mari kita simak pendapat dari Rizal Ramli, mantan Menteri Perekonomian era Gus Dur mengatakan ( http://www.voanews.com/indonesian/news/Rizal-Ramli-Indonesia-Rugi-Rp-20-Miliar-Perhari-dari-Impor-Minyak-143760326.html ) :
Ketua Umum Aliansi Rakyat untuk Perubahan Rizal Ramli mengungkapkan Indonesia tidak perlu memberlakukan kebijakan untuk menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) jika pemerintah mampu memberantas para mafia impor minyak. Rizal Ramli memprediksikan selama ini akibat ulah mafia impor minyak negara mengalami kerugian mencapai Rp. 20 miliar rupiah perhari.
Menurut mantan menteri Koordinator Bidang Perekonomian ini, mafia impor minyak selama ini sangat diuntungkan dengan proses pengadaan impor minyak dengan sistem tender. Apalagi setiap harinya Indonesia mengimpor sekitar 400 ribu barel minyak mentah dan 500 ribu barel minyak jadi seperti premium, solar dan minyak tanah.
“Ada mafia migas kelompok orang yang mendapatkan keuntungan 2-3 dolar perhari, kalikan 900 ribu barel, mereka dapat lebih dari 2 juta dolar, 20 miliar perhari, kalikan 360 mereka dapat lebih dari 7 triliyun, tetapi mereka ada karena dukungan dari kekuasaan, mereka menyogok orang-orang yang berkuasa,” ungkap Rizal Ramli.
Rizal Ramli menegaskan banyak jalan yang sebenarnya bisa dilakukan pemerintah selain memberlakukan kenaikan harga BBM. Jalan tersebut dapat berupa pemberantasan mafia impor migas dan pembangunan kilang baru.
“Ini luar biasa keterlaluan, kenapa tidak sikat mafia migas ini, bangun kilang sehingga ongkos memproduksi BBM itu lebih murah, kita sering dicekokin bahwa ini subsidi untuk rakyat padahal sebagian besar ini subsidi untuk KKN di sektor migas dan subsidi ketidakefisienan,” kecam Rizal.
Proses impor minyak ini pun menurut Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Erik Satya Wardhana, memiliki banyak "kebocoran" dan tidak efisien. Berikut kutipan dari politikindonesia ( http://www.politikindonesia.com/index.php?k=pendapat&i=32164-Salah-Kelola-Petral-oleh-Pertamina ):
14/03/2012 12:22 WIB
Salah Kelola Petral oleh Pertamina
....
Soal pola pembelian melalui broker atau trader yang dilakukan oleh Petral dalam pengadaan minyak mentah dan bahan bakar minya (BBM) jenis premium. Secara logika, pembelian tidak langsung (melalui broker/trader) pasti akan lebih mahal dari pada pembelian langsung kepada produsen. Kondisi ini menjadi penyebab tingginya biaya pengadaan, yang secara otomatis memberi kontribusi bagi mahalnya harga minyak di dalam negeri yang berakibat pada beban APBN.
Fakta ini, ujar Erik, dapat dilihat dalam kejanggalan pada kasus pengadaan minyak mentah jenis azari crude yang dilakukan Petral. Dimana, harga dari Socar yang merupakan produsen azeri crude ternyata lebih mahal dari harga yang ditawarkan PTT Thailand yang merupakan trader.
Sedangkan penjelasan Vice Presiden Marketing Petral pada 23 Februari lalu, bahwa alasan dimenangkannya PTT Thailand karena harga yang ditawarkan lebih rendah dibanding Socar. “Ini aneh, karena PTT Thailand pasti memperoleh azari crude dari Socar. Bagaimana mungkin harga trader lebih rendah dibanding harga produsen.”
...
Persoalan lainnya yang melingkupi Pertal, adalah terkait beban transportasi. Erick mengaku menerima data adanya inefsiensi dalam pengapalan minyak. Berdasarkan data yang diterima, besarnya inefisiensi di proses pengapalan mencapai sekitar Rp26,1 miliar sebulan atau lebih dari Rp300 miliar setahun.
“Lagi-lagi ini akibat praktek broker yang menyebabkan biaya sewa kapal menjadi terlalu besar, jauh di atas harga yang wajar. Kalau di total permainan dalam pengadaan crude oil, premium, solar dan avtur, inefisiensi Petral bisa mencapai sekitar Rp.4 triliun dalam setahun,”
...
Erik Satrya Wardhana, Wakil Ketua Komisi VI DPR
Dari artikel-artikel di atas ada tiga hal yang saya highlight :
1. Indonesia mengimpor BBM lewat broker alias "calo"
2. Ada permainan dalam tender sehingga "pasti" menang broker / perantara / "calo" daripada PRODUSEN
3. Biaya lewat broker / perantara / "calo" pasti lebih tinggi.
Dari sini dapat kita lihat bahwa, masalah BBM adalah masalah "ladang uang" yang tidak sedikit bagi banyak pihak. Sungguh tidak masuk di akal bahwa menurut pengakuan Pertamina, harga beli di produsen lebih mahal daripada harga beli di toko / perantara. Apakah tidak aneh?
Sungguh kita telah dipermainkan. Harga BBM telah dipermainkan. 230 juta rakyat Indonesia telah dipermainkan. Apa yang bisa kita lakukan?
Jadi, sebetulnya kenaikan BBM untuk apa? Harga BBM dikendalikan oleh siapa?
Mengapa tidak bisa transparan dalam pengadaannya, langsung dari produsen saja sehingga harga lebih murah?
Memang banyak pr-pr lain yang harus kita kerjakan dalam urusan BBM ini :
1. Peningkatan produksi minyak dalam negeri
2. Penghematan penggunaan BBM, beralih ke Gas dan Listrik, serta energi alternatif lain seperti Matahari (Solar) dan BIOFUEL.
Sekian dulu... mudah2an bermanfaat..
Semarang
22032012
Nyamuk, oh.. Nyamuk..
Bismillaahirrahmaanirrahiim..
Nyamuk. Binatang ini sering dianggap mengganggu bahkan berbahaya bagi manusia.
Karenanya ia sering diburu dengan obat semprot, raket listrik, sampai metode tradisional (ditabok pake tangan).
Nyamuk.
Binatang yang telah dituduh jadi biang keladi berbagai penyakit yang ada.
Mulai dari DB (demam berdarah), Malaria, Kolera, sampai Chikungunya.
Kalo ada warga RT yang terkena penyakit itu, solusinya simpel : FOGGING, alias pemberantasan nyamuk secara besar-besaran menggunakan obat nyamuk yag dibikin kayak asap / kabut.
Bagi orang yang kena penyakit gara-gara nyamuk, dia jadi sumber bencana.
Nyamuk.
Binatang ini telah berjasa bagi jutaan orang di dunia.
Sampe-sampe ada perusahaan raksasa bisa kaya gara-gara nyamuk.
Maksudnya bikin industri obat nyamuk.
Bagi orang yang "hidup" dari industri obat / perlengkapan pembunuh nyamuk, harusnya dia jadi pahlawan.
Fakta Menarik Tentang Nyamuk
Tahukah Anda?
Hanya nyamuk betina saja yang menyedot darah, dan itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan makan.
Sebab, pada kenyataanya, baik jantan maupun betina makan cairan nektar bunga.
Nyamuk betina perlu memberi nutrisi protein yang terdapat dalam darah untuk perkembangan telur-telurnya.
Teknologi Nyamuk
Nyamuk selalu dapat menemukan sasarannya dengan tepat karena mereka melihat dengan gerakan, panas tubuh, dan bau tubuh.
Disini dia memakai 3 sensor yang luar biasa sekaligus.
Teknologi yang diadaptasi manusia dalam peluru kendali baru hanya bisa 1 macam.
Sewaktu nyamuk hinggap di tubuh dia menempelkan mulutnya yang mirip sedotan disebut juga probosis.
Lalu terdapat pisau yang merobek kulit maju mundur, hingga menemukan urat darah, setelah itu baru darah yang ada dihisap.
Dalam prosesnya nyamuk juga mengeluarkan air liur yang mengandung antikoagulan untuk mencegah darah yang dia hisap membeku.
Proses ini berlangsung cepat dan seolah-olah proses yang terjadi adalah nyamuk menusuk tubuh padahal tidak begitu, nyamuk membedah kita seperti layaknya dokter bedah yang cepat dan akurat.
Subhanallah.. Dokter bedah harusnya belajar dari Nyamuk!
Setelah nyamuk kenyang dia akan mencabut probiosis dan terbang.
Air liur yang tertinggal di kulit kita akan merangsang tubuh layaknya ada benda asing yang mengganggu, terjadilah proses yang dikenal dengan alergi, dan yang terjadi adalah bentol-bentol dan gatal.
Buat orang yang udah sangat terbiasa mungkin udah ga gatal lagi, udah kebal, he he he.
(diadaptasi dari sumber : wikipedia.org)
Kutu Loncat dalam Kotak Korek
Bismillaahirrahmaanirrahiim...
Alkisah, ada seorang pemuda yang sedang berkelana mencari jati dirinya. Dia pun berkelana ke negeri nan jauh untuk menimba ilmu. Sampai suatu saat ia tiba di sebuah negeri yang makmur dan maju. Ia pun terpesona dan penasaran mengapa negeri itu bisa begitu maju dengan pesat.
Ia pun bertemu penduduk setempat dan mengobrol, mencari tahu budaya setempat. Ia pun menanyakan ; Siapakah pemimpin kalian? Orang seperti apakah dia? Penduduk setempat pun menjawab ; Pemimpin kami adalah orang yang sederhana dan bijak, dia adalah seorang guru. Pemimpin kami orangnya sangat santai dan ramah, dia dapat ditemui dengan mudah tidak ada acara protokoler yang rumit.
Mendapat jawaban tersebut sang pemuda itu kaget dan penasaran, mengapa di negeri semaju dan semodern ini seorang guru bisa menjadi pemimpin tertinggi? Dan mengapa ia bersikap begitu santai, padahal bagi pemimpin keselamatan kan yang utama?
Pemuda itu pun bertekad untuk menemui pemimpin negeri itu yang biasa disebut "Sang Guru". Ia pun mengunjungi kantor pusat pemerintahan di Ibu Kota.
Ketika ia sampai di Kantor Pemerintahan, ia melihat sebuah bangunan tua yang megah. Terlihat kokoh namun sederhana. Tidak ada kesan angkuh dan tertutup. Ia pun melihat ada sesosok yang berbadan tegap menggunakan pakaian resmi. Ia berasumsi bahwa itu adalah petugas keamanan "Istana" Pemerintahan dan memberanikan diri melapor ke Petugas keamanan tersebut untuk bertemu "Sang Guru".
"Selamat Siang Pak!"
Sang Petugas Keamanan yang awalnya terlihat sangar bin angker, ternyata bersikap ramah saat berdialog dengan pemuda tersebut.
"Selamat Siang, maaf Anda ada kepentingan apa ya?", tanya sang petugas.
"Perkenalkan saya Fulan, dari negeri seberang. Saya ingin bertemu dengan Pemimpin negeri ini.."
"Oh, ya, silakan isi buku tamu ini dulu."
"Baik pak, terima kasih. Tapi beliau ada kan Pak?"
"Beliau ada kok. Ngomong-ngomong, ada keperluan apa ya dik?", petugas keamanan itu bertanya lagi.
"Begini Pak, saya sangat mengagumi kemajuan yang terjadi di negeri ini. Padahal sekitar 10 tahun yang lalu negeri ini baru saja menderita akibat peperangan yang terjadi. Maka dari itu saya sangat ingin bertemu dengan pemimpin negeri ini. Saya ingin belajar banyak dari negeri ini."
Sang Petugas Keamanan tersenyum dan bercerita,
"Memang negeri ini sempat hancur dan menderita akibat perang antar golongan yang terjadi di negeri ini. Akan tetapi itu semua sudah kami lupakan dan kami bertekad untuk membangun negeri ini dalam damai. Oya dik, silakan duduk dulu."
Sang Petugas Keamanan pun mempersilakan si pemuda untuk duduk di Pos Jaga, lalu ia menelepon sekretaris Sang Pemimpin.
"Sekretaris sudah saya beritahu..."
"Terima kasih Pak," Sang Pemuda tersebut memotong.
"Saya harus ke mana pak?"
Sang Petugas Keamanan kembali tersenyum,
"Di sini saja dulu. Oya, jadi Anda ini mau belajar di negeri ini?", tukas Sang Petugas.
"Betul sekali pak. Akan sangat berharga bagi saya untuk bisa belajar di negeri ini sebelum kembali ke negeri saya."
"Akan saya buka sedikit rahasia, mengapa negeri kami bisa begini. Meskipun saya petugas keamanan, saya tetap membuka wawasan saya lho."
Sang Petugas pun memulai ceritanya,
"Jadi begini, kamu tau kutu loncat kan?
Seekor binatang yang dapat meloncat 200 kali tinggi tubuhnya. Ia dapat mempunyai kekuatan seperti itu karena ia dapat memaksimalkan kemampuan dirinya."
"Ada sebuah cerita tentang kutu loncat ini. Suatu ketika ada eksperimen yang dilakukan oleh seorang ilmuwan. Ia memasukkan seekor kutu loncat ke dalam kotak korek api.
Kutu loncat itu pun meloncat di dalam kotak korek api tersebut. Dapat diduga, kutu loncat tersebut menabrak dinding kotak.. Begitu terus berulang-ulang.. Sampai akhirnya si kutu mencoba mengurangi tenaga loncatnya.
Beberapa kali masih terbentur, namun di percobaan yang ke sekian ratus kali, ia akhirnya berhasil meloncat dengan aman, tanpa terbentur dinding."
"Kutu tersebut berada di kotak korek api selama 3 minggu.
Setelah 3 minggu berlangsung, kutu tersebut dilepaskan dari kotak korek api.
Apa yang terjadi setelah itu, kutu loncat tersebut menjadi sangat terbiasa melompat sebatas seperti masih di dalam kotak korek api tadi, seolah-olah ia takut terbentur dinding kotak padahal sebetulnya tidak ada kotak.
Kutu tersebut kehilangan kemampuan meloncat sampai 200 kali tinggi tubuhnya. Ia hanya meloncat dengan "aman"."
"Nah, ibarat itulah kemampuan manusia. Lebih dari berabad-abad negeri kami ini merasa "terkungkung" seperti kutu loncat dalam kotak korek. Kami merasa takut untuk bergerak bebas.
Sebetulnya yang kami takuti bukanlah hal yang nyata seperti dinding korek itu. "Dinding" yang kami hadapi adalah sebuah "tradisi" yang mengakar sangat kuat, sebuah "kepentingan" yang licik, dan sebuah kebiasaan yang sangat lazim sehingga apabila ada hal-hal baru seolah-olah "terbentur" dengan "dinding-dinding" tadi."
"Akhirnya pada 10 tahun lalu ada gerakan "terobosan" yang berusaha keluar dari dalam "kotak". Gerakan ini mendapat perlawanan yang amat kuat sehingga terjadi perang ideologis."
"Peperangan itu sebenarnya lebih banyak "berperang melawan diri sendiri" daripada melawan orang lain.
Peperangan itu lebih banyak pada aspek kejiwaan daripada aspek fisik. Walaupun secara fisik memang ada beberapa orang yang harus rela berkorban raga. Namun itulah tonggak perubahan.
Peperangan itu akhirnya dimenangkan oleh kaum yang menginginkan perubahan dan terobosan."
"Dan dari sisa-sisa kemenangan kami itulah, negeri ini dibangun kembali. Kami memaksimalkan segala potensi yang dimiliki oleh putra-putri negeri kami sendiri. Kami tidak menghancurkan segala tradisi yang mengungkung, kepentingan yang licik, dan kebiasaan-kebiasaan yang salah di negeri ini."
Petugas Keamanan itu terlihat sangat berbeda dari awal perjumpaan mereka. Ia menjadi sangat berapi-api seolah-olah ingin meledak, tetapi cara berbicaranya sangat terstruktur dengan baik. Setelah itu terdengar suara panggilan telepon di Pos Jaga dan Sang Petugas Keamanan pun segera menerimanya. Ternyata sebuah panggilan untuk Sang Petugas Keamanan. Akhirnya ia pun berpamitan kepada Sang Pemuda tersebut.
Sang Pemuda yang dari awal mendengarkan semakin terbakar juga semangatnya untuk segera mengadakan terobosan-terobosan di negerinya. Ia merasa sangat terinspirasi oleh cerita Sang Petugas Keamanan tadi. Di dalam pikiran sang Pemuda ia bagaikan mendapat ide segar yang harus segera dilaksanakan. Keinginan untuk bertemu "Sang Guru" alias Pemimpin negeri tersebut menjadi tidak sebesar tadi karena ia ingin cepat-cepat pulang.
Tak lama kemudian datanglah Petugas Keamanan yang lain. Kali ini pakaiannya masih mirip dengan yang pertama namun berwarna lain dan ditambahi tulisan "SECURITY" melingkar di lengan kanannya. Sang Pemuda pun memutuskan untuk segera pulang, ia pun akan berpamitan kepada Petugas Keamanan yang baru datang ini.
"Pak, mohon maaf saya tidak jadi bertemu Sang Pemimpin. Saya harus segera kembali ke negeri saya karena saya memiliki pekerjaan yang amat banyak."
"Lho dik, justru saya ke sini untuk menyampaikan permohonan maaf dari Sang Pemimpin karena telah menerima kedatanganmu hanya di Pos Jaga ini."
Sang Pemuda tidak begitu mengerti maksud Petugas Keamanan yang baru ini.
"Maksud Bapak, yang bicara panjang lebar tadi di Pos Jaga ini? Dia atasan bapak kan? Saya lihat pakaiannya mirip pak, berjas resmi hanya warnanya saja yang berbeda dan tidak ada tulisan "SECURITY"-nya."
"Iya, dia memang atasan saya, tetapi atasan yang paling atas. Alias Sang Pemimpin. Beliau kebetulan tadi sedang berjalan-jalan memeriksa Pos Jaga ini, dan saya disuruhnya berkeliling untuk patroli. Sebenarnya saya tidak enak meninggalkan beliau sendiri di sini, tapi ini saya kan cuma menjalankan perintah."
Sang Pemuda kaget bukan main bahwa yang tadi ia sangka adalah Sang Petugas Keamanan ternyata adalah Sang Pemimpin itu sendiri! Alangkah malunya ia tadi memotong pembicaraan. Dan alangkah kagumnya ia terhadap kerendahan hati Sang Pemimpin tadi. Pantas saja cara berpikir dan berbicaranya luar biasa, pikir Sang Pemuda itu.
"Wah, mohon maaf Pak, saya tidak tahu kalau itu adalah Sang Pemimpin negeri ini. Saya benar-benar tidak tahu soalnya saya dari negeri seberang Pak. Lagipula beliau sangat bersikap sederhana."
"Ya, tidak apa-apa. Itu sudah biasa terjadi, beliau memang begitu, bersikap sederhana dan saking sederhananya orang yang pertama kali berjumpa dengannya tidak akan menyangkan kalau beliau memiliki jabatan tertinggi di negeri ini. Mungkin itu karena ia berasal dari seorang guru. Ia memandang Pemimpin itu bukan kehormatan, tetapi sebuah amanah yang harus diemban, yang akan dimintai pertanggungjawabannya.", petugas keamanan itu menjelaskan.
Kini Sang Pemuda itu mendapatkan dua pelajaran yang amat berharga dari kunjungannya ke negeri ini. Yang pertama mengenai kisah kutu loncat tadi dan yang kedua adalah mengenai prinsip kepemimpinan.
Pertama : Jangan batasi kemampuan diri dengan apapun. Batasan itu biasanya lebih banyak dari dalam diri sendiri, sisanya dari luar. Akan tetapi jika ada gerakan bersama untuk "keluar dari kotak" dan membebaskan diri, niscaya batasan-batasan tersebut akan hancur.
Kedua : Kepemimpinan adalah sebuah amanah yang harus diemban yang akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang pemimpin adalah harus dapat melayani yang dipimpinnya, bukan sebaliknya. Seorang pemimpin bukan orang yang terkenal, tetapi orang yang mau mengenal segala aspek dari yang dipimpinnya.
--------------------------------
Semarang
140312
--------------------------------
Membangun Keluarga
Secara psikologis, ada 3 faktor pembentuk keluarga :
1. Paradigma pasangan tentang keluarga
Paradigma adalah cara pandang, cara bersikap terhadap suatu hal. Jadi dari awal masing2 individu baik suami maupun istri harus memperjelas bagaimana paradigma pribadinya tentang sebuah keluarga. Hal inilah yang akan menentukan kecocokan antara suami dan istri.
Misalkan suami memandang "membangun keluarga adalah untuk mendapat keturunan dan sekedar melanjutkan garis keluarga" sedangkan sang istri memandang "membangun keluarga adalah ibadah kepada Allah". Dua paradigma yang berbeda itu akan menyebabkan banyak ketidakcocokan dalam rumah tangga. Jadi paradigma awal haruslah disamakan.
2. Kompetensi dan partisipasi anggota keluarga
Kompetensi dan partisipasi masing2 anggota keluarga sangatlah penting. Harus ada keseimbangan yang baik antara suami, istri, dan anak-anak (apabila telah besar) dalam masalah kompetensi dan partisipasi untuk membangun keluarga. Suami mencari nafkah, istri mengurus rumah tangga, anak membantu orang tua. Masing2 anggota keluarga hendaklah mempunyai peran yang seimbang.
Apabila terjadi ketidakseimbangan dalam kompetensi dan partisipasi, tentu keluarga tersebut tidak akan seimbang pula. Misalkan sang suami mencari nafkah, rumah tangga diurus pembantu, anak diurus baby sitter, sedangkan sang istri hanya bersantai. Atau sebaliknya, sang istri yang mencari nafkah, mengurus rumah tangga dan anak, sedangkan sang suami hanya berleha-leha. Sebaiknya segala sesuatunya harus seimbang.
3. Aktifitas anggota keluarga
Aktifitas anggota keluarga juga berpengaruh terhadap bangunan keluarga itu sendiri. Masing-masing anggota harus menjalankan aktifitasnya secara seimbang dan teratur. Jangan mementingkan sesuatu hal sehingga mengorbankan hal lain yang sebetulnya lebih penting. Jalankan aktifitas yang memang menjadi prioritas dalam membangun keluarga.
Misalkan sang suami dan istri bekerja dari pagi sampai malam, sedangkan rumah dan anak2 diurus oleh para pembantu. Maka hal ini tidak akan berdampak baik bagi keluarga karena aktifitas di luar rumah yang terlalu berlebihan. Anak2 tidak dibesarkan dengan kasih sayang orang tuanya tetapi dari kasih sayang pembantunya. Mendidik anak bukan hanya materi, tetapi kedekatan hati.
Paradigma Bentuk Keluarga dalam Islam
1. Beribadah kepada Allah
2. Menjaga kesucian diri
3. Merealisasikan amal / menerapkan hukum-hukum Allah
3 faktor di atas adalah menjadi kunci paradigma seorang muslim dalam sukses berumah tangga. 3 hal di atas yakni beribadah kepada Allah, menjaga kesucian diri masing-masing, dan merealisasikan amal / menerapkan hukum2 Allah haruslah menjadi sebuah niatan dari awal untuk membentuk keluarga yang Sakinah, Mawaddah, Warrahmah.
Pengertian SaMaRa
Keluarga yag Sakinah, Mawaddah, Warrahmah adalah keluarga yang mempunyai tujuan :
1. Kebahagiaan dunia
2. Kebahagiaan akhirat (masuk surga)
3. Dijauhkan dari api neraka
Kebahagiaan dunia saja tidak akan cukup karena dunia akan berakhir, sedangkan kehidupan yang abadi adalah di akhirat kelak. Tentu saja kita menginginkan kebahagiaan yang abadi yakni di surga. Dan jangan sampai kita menyentuh / masuk neraka walaupun sebentar, na'udzubillahi min dzalik.
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (Q.S. At-Tahrim (66):6)
Oleh karena itu, setiap keluarga muslim hendaklah memiliki VISI, MISI dan PROGRAM KERJA yang jelas dalam membangun keluarga untuk mencapai tujuan di atas. Di bawah ini adalah contoh saja, bagaimana Visi, Misi dan Program Kerja sebuah keluarga muslim :
VISI
"Semua Anggota Keluarga Mencapai Kebahagiaan dunia, Kebahagiaan akhirat (masuk surga) dan Dijauhkan dari Api Neraka"
MISI
1. Mencapai derajat taqwa
2. Hidup mulia atau mati syahid
PROGRAM KERJA
1. Shalat 5 waktu tepat waktu, dan berjamaah di masjid
2. Shaum (wajib dan sunnah)
3. Zakat dan sedekah
4. Haji (diniatkan dari sekarang)
5. Shalat Tahajjud
6. Shalat Dhuha
7. dll
Tentu saja inti dari semua ini adalah "teamwork" atau kerja sama antar suami, istri, dan anak dimana sang suami adalah pemimpinnya. Tanpa adanya kerja sama yang baik akan sulit membangun keluarga.
Wallaahu a'lam bishshawwaab.
(Sumber : tarbiyah)
Villa Kecil Kami
Rumah kami terletak di kawasan dataran yang cukup tinggi di kota Semarang, sehingga udaranya pun cukup sejuk. Jarak dari rumah ke kantor kurang lebih 13 km, jarak yang bisa ditempuh sekitar 20 menit jika menggunakan motor, tidak terlalu jauh bukan? Untuk menuju rumah kami, diperlukan tingkat kesabaran yang cukup tinggi karena setelah belok dari jalan raya antar kota (Jurusan Semarang-Solo), Anda harus menempuh 3 km jalan yang naik-turun serta berkelok. Namun begitu sampai ke kompleks rumah kami, rasa lelah pun hilang dengan melihat kesegaran pemandangan perbukitan hijau dan udara segar di sekitar kawasan rumah kami. Serasa tinggal di Villa :p.
Hari Minggu tanggal 29 Januari 2012, kami pun pindahan dari rumah kontrakan kami di Perumnas Banyumanik ke rumah kami yang baru. Jarak dari rumah kami yang lama tidak terlalu jauh, sekitar 4 km-an. Waktu itu kami dibantu oleh teman dari kantor dan juga tetangga kami di Perumnas. Alhamdulillah, sore itu juga rumah sudah bisa ditempati dan malam itu menjadi malam pertama kami di rumah :).
Berbicara tentang suhu udara, di rumah kami yang baru ini kami merasa kedinginan saat malam tiba. Mungkin faktor musim hujan ditambah letak rumah kami di dataran tinggi. Malam hari kami tidur, pintu harus tertutup, karena jika tidak angin yang berhembus masuk sangat dingin, brrrr... Benar-benar jadi serasa berada di Villa, tinggal tambah perapian saja biar hangat (tapi nanti tetangga mengira ada kebakaran, hehe).
Begitulah sekilas cerita singkat tentang rumah kami yang rasanya seperti Villa, walaupun sangat sederhana dan kecil jika mau dikatakan sebagai Villa. Jika Anda berkenan silakan mampir ke rumah kami, kami akan ajak Anda menikmati udara segar dan pemandangan hijau di bukit Gedawang, halah kayak promosi Objek Wisata aja :p.








